MPKMB 2

Nama: Nadina Adelia Indrawan

NRP: G64100091

Laskar 22

And here we go..

Suatu hari ada anak kecil yang bermimpi. Dalam mimpinya dia kaget sendiri [mimpi apaan sih nih anak kecil, baru mimpi masa uda kaget -.-‘’]. Oh ternyata, dia bermimpi mempunyai kekuatan melihat organ-organ dalam tubuh tanpa memakai alat bantuan apapun. Pertama kali bangun tidur, dia berteriak. Karena melihat ada otak, hati, jantung, prankeas, usus, dan organ-organ tubuh lainnya yang menyerupai sosok anjing sedang berlari-lari di kamarnya. Ibu nya yang sedang berada dibawah pun langsung naik, setelah mendengat jeritan anak semata wayangnya itu. Tetapi, ternyata sang anak malah semakin kuat jeritannya setelah melihat sang ibu. Bayangin aja boneka yang keliatan otot, hati dll yang biasa ada di labotarium biologi kini mendadak ada di rumahnya. Dan yang lebih mengerikan lagi boneka itu hidup, bahkan berbicara kepadanya.

Alhasil, si anak pun merasa ngeri sendiri *yaiyalah. Tadinya dia berniat mau bangun saja dan menyudahi mimpinya ini, tapi berhubung yang nulis cerita belum selesai nulis cerita inspiratifnya, mimpi pun dilanjutkan.

Dan setelah berhasil mengatasi rasa keterkejutannya itu mata, hati dan jiwanya pun mulai terbiasa dengan pemandangan yang mengganjilkan itu.Dia sangat tertarik akan kekuatan super yang dimilikinya. Saat memandang anjingnya, dia sangat tertarik pada hati sang anjing, hati anjing itu tidak utuh sepenuhnya. Hanya ada seperempat bagian, dan sisanya hilang entah kemana. Yang pertama terlintas dalam pikiran anak itu adalah “bagaimana dengan bentuk hati ku?”. Dia pun bergegas menuju kaca dan melihat bentuk hatinya. Dia pun mendesah lega, karena hatinya masih utuh, bersih bersinar layaknya iklan sabun cuci piring di televisi. Sang anak pun bergembira, saking gembiranya dia lari ke bawah dan hampir saja terjatuh karena tersandung oleh vas bunga yang tidak tahu kenapa ada di tengah-tengah jalan. Sayangnya dia selamat, kalau tidak cerita ini berakhir hanya sampai disini.

Setelah sampai dibawah, anak ini penasaran melihat bentuk hati sang kakak tercinta. Dia pun langsung bergegas  masuk ke kamar kakaknya. Untungnya sang kakak tercinta sedang tidur pulas, bersama noda pulau di bantalnya. Lagi-lagi dia terkejut dengan apa yang dilihatnya [kenapa sih nih anak kecil, terkejut melulu daritadi].  Bentuk hati sang kakak tercinta pun sudah tidak sempurna. Hatinya berlubang disana-sini. Dan beberapa tersayat-sayat. Si anak pun berlari meninggalkan kamar. Dia ingin bertanya pada ibunya, tapi takut bila melihat hati sang ibu. Setelah berpikir beberapa saat, sang anak pun akhirnya memutuskan untuk bertanya pada ibunya.

Ternyata sang ibu ada di kebun. Dengan hati-hati dia memperhatikan hati ibunya. Ternyata semakin menyeramkan. Begitu banyak lubang dan banyak sayatan-sayatan di hati ibunya. Penuh dengan rongga-rongga, beberapa terisi dengan gumpalan hati lainnya terkadang besar rongga dengan tambalannya tidak sama. Ada yang rongga hati lebih besar daripada tambalannya, dan ada pula yang sebaliknya. Karena si anak ingin cepat-cepat menyudahi mimpinya, dan sang penulis pun ingin cepat-cepat menyelesaikan ceritanya. Si anak pun bertanya pada sang ibu, ada apa dengan bentuk hatinya itu. Sang ibu pun menjawab, lubang-lubang dan sayatan-sayatan yang ada di hati ibu ini disebabkan karena terlalu banyak orang yang ibu sayangi. Setiap orang yang ibu sayangi selalu ibu berikan serpihan hati ibu ini. Dan begitupun orang-orang yang sayang  kepada ibu, mereka memberikan hatinya pada Ibu. Jadi, beginilah bentuk hati ibu sekarang.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MPKMB 1

Nama: Nadina Adelia Indrawan

NRP: G64100091

Laskar 22

Hai perkenalkan, nama saya Nadina Adelia Indrawan. Saya tau nama saya pasti ada di pojok kiri atas, ya, siapa tau kalian tidak lihat haha :P. Dan sebenarnya perkenalan ini hanya untuk memperpanjang cerita yang akan saya buat saja karena saya belum tahu akan menulis cerita tentang apa [maaf ya].

Saya jadi semakin grogi kalau diburu waktu seperti ini. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa saya tidak membuatnya dari dulu-dulu? Ya kan? Pertama karena menurut saya sesuatu yang fresh from the oven [maklum saya lapar, jadi teringat pizza yang fresh from the oven, hm yummy!] maksudnya yang langsung tertulis tanpa di rencanakan akan jauh lebih indah [mungkin, haha]. Kedua, hal yang membuat saya semakin sulit meluapkan ide dalam kepala saya yaitu karena apa yang saya tulis harus seusai dengan EYD dan diikuti beberapa peraturan-peraturan lainnya. Ketiga, ada serangga yang mengganggu saya saat mengerjakan tugas ini [euh, L ] *ingin ku bunuh dia, tapi aku takut akan dosa, uoooh~

Well, ingat akan tulisan “Don’t  judge the book by its cover”. Atau kalau kita mengaju pada wikipedia ensiklopedia artinya “dont determine the worth of something based on it appearance”. Atau dalam bahasa Indonesia mempunyai arti “jangan menilai sesuatu dari penampilan luarnya”. Saya yakin, kalian yang lagi baca cerita inspiratif saya yang rada-rada melenceng ini pasti sudah pernah dengar atau baca kata-kata bijak itu. Yap, kita memang tidak boleh menilai sesuatu hanya dari apa yang kita lihat secara fisik. Karena belum tentu sesuatu yang terlihat buruk dari luar mempunyai hal yang sama buruknya di dalam.

Begini ceritanya, waktu itu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, atau SMP atau Junior High School atau JHS atau whatever. Karena belum punya SIM dan KTP [jangan tanya, apakah saya sudah punya surat nikah atau belum ]. Dan dikarenakan jarak antara rumah dan sekolah saya tidak bisa di prediksi alias jauh, saya pun memutuskan untuk naik angkutan umum 03. Tadi nya mau naik antar-jemput tapi saat itu antar-jemput sudah ga zaman.

Suatu hari, di tengah teriknya matahari saya memaksakan diri untuk naik angkot. Mencari angkot dengan jurusan br.siang-bubulak tidaklah susah. Tinggal tunggu di sisi jalan saja, tidak perlu repot mengulurkan tangan agar angkot berhenti, karena sang supir inisiatif sendiri untuk menawarkan jasa angkutannya pada kita. Sesaat kemudian ada angkot 03 menghampiri saya, berhubung saya sudah capek, letih, lelah, lesu, lemas dan kekurangan uang [tenang, yang terakhir memang ga ada hubungannya] saya pun langsung naik. Di dalam angkot hanya ada saya, nenek yang sedang berjuang menghitung uang untuk ongkos, dan dua wanita yang sibuk bergosip tentang cowok ganteng. Tadinya saya mau ikutan ngegosip, habis topiknya tentang cowok ganteng sih, tapi kan repot kalau misalnya mereka shock dan mati di tempat cuma gara-gara ngeliat saya yang tiba-tiba datang ikut bergosip ria dengan mulut berbusa. So, before everything its too late, saya memutuskan untuk mengurungkan niat saya…

Tapi rasa bosan datang dengan cepat, untuk mengusir rasa bosan saya memutuskan untuk memerhatikan sang supir angkot yang tadi dengan gigihnya memaksa saya untuk naik. Pas saya lihat astagfirullah, badannya besar, hitam dan dilihat dari kaca spion mukanya, maaf, cukup seram dan dosis seram akan bertambah bila dipandang lebih lama. Alhasil, saya yang duduk tepat di belakang “sang supir” bergeser sedikit demi sedikit ke sebelah kiri, sambil menenangkan hati dan pikiran yang dag-dig-bum-jer. Jujur, yang pertama kali terpikirkan oleh saya adalah dia terlihat seperti beruang [jangan ditiru ya teman-teman]. Dan saat itu pikiran saya dipenuhi pikiran-pikiran negatif tentang sang supir. Rasanya perjalanan pulang ke rumah yang menyenangkan yang dari tadi saya idam-idamkan hancur sudah. Waktu berjalan sangat-sangat-snagat lambat saat itu. Sepertinya durasi waktu perjalan pulang saya kali itu bertambah berkali-kali lipat, padahal si komo tidak lewat hari itu.

Akhirnya, jalan pulang ke rumah sudah tampak di depan mata *alangkah indahnya uooooh~. Saya pun mengambil uang lima ribuan dari saku baju SMP saya. Dalam hati, saya sudah yakin pasti kembaliannya hanya tiga ribu rupiah. Padahal biasanya kembaliannya empat ribu rupiah. Maklum, harga BBM belum naik jadi tarif untuk anak SMP hanya seribu [indahnya masa lalu, indahnya isi dompetku yang tidak pernah habis untuk ongkos]. Setelah saya bilang kiri, dan menyerah kan uang nya, sang supir pun menyerahkan kembalian dalam bentuk pecahan seribuan [belum ada uang dua ribuan neng]. Dan ketika itu, hati saya tersentuh *lebay, haha :P* jumlah uang yang dikembalikan oleh sang supir adalah empat ribu. Padahal jarak rumah saya cukup jauh, dan sering kali bayarnya dua ribu.

Dan saat itulah saya sadar. “jangan pernah menilai sesuatu hanya dari penampilan luarnya saja”. Yap, tidak semua sama dengan penampilan luarnya, contohnya saja sang supir angkot yang seram itu. Siapa yang tahu kalau hatinya selembut kapas? karena itu teman, berhati-hati lah dalam menilai seseorang.

*THE END*

Nb: sampai sekarang saya tidak pernah bertemu lagi dengan “the driver bears”. Dan kalau kalian bertemu dengan supir seperti itu tolong sampaikan salam dan rasa terima kasihku untukknya, oke ;))

Posted in Uncategorized | Leave a comment